*
Categories
Menu
Ilustrasi. (inet)
Curhat Kepada Allah SWT
Artikel Lepas

“Sebaik-baik curhat adalah curhat kepada Allah, di atas sajadah, di sepertiga malam.”

berdoa_webdakwatuna.com - Kalimat di atas suatu ketika pernah saya tuliskan di status Facebook saya.  Dengan maksud memberi tahu kepada sahabat-sahabat, supaya ketika curhat, lebih memilih untuk curhat kepada Allah. Karena hal itu lebih utama dan lebih membawa manfaat. Karena Allah maha segala-galanya. Ketika seorang hamba mengadu kepada, tentu Dia pasti mendengar dan akan memenuhi segala keperluannya.

Sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah memiliki perasaan. Maka sudah fitrah manusia untuk curhat. Curhat adalah kependekan kata dari “Curahan Hati”, maksudnya meluahkan perasaan.  Setiap kita tentu punya pengalaman curhat. Karena sudah pada umumnya begitu. Setiap mendapat, nikmat, kegembiraan, kebahagiaan, tentu ingin sekali berbagi cerita kepada orang lain, terutama orang-orang terdekat, untuk berbagi rasa. Dengan meluahkan rasa, nikmat yang didapat akan terasa bertambah nikmatnya. Ini bukanlah suatu hal yang salah, bahkan ianya sunah dan mampu meningkatkan rasa syukur. Istilahnya “tahdus binikmah”, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah. (QS. Ad Dhuha: 11). Namun ketika menyampaikan tentu ada etikanya, tidak boleh sampai menjadi takabur oleh nikmat yang telah diperoleh.

Begitu pula ketika mendapat musibah, fitrah manusia untuk curhat, mengadu, meluahkan rasa. Ketika jiwa murung, hati bingung, di situ ia akan mencari tempat untuk berlindung atau orang yang bisa mendukung. Ia perlu tempat meluahkan rasa, pada orang yang dipercaya. Dengan curhat pada peristiwa yang menimpa, ia akan merasa beban menjadi ringan, kesedihan menjadi berkurang, kebuntuan menjadi lapang, kepedihan menjadi terobati dan kedukaan menjadi terhibur. Walaupun kadang yang menjadi tempat ia curhat tidak mampu membantunya secara nyata, namun dengan menjadi pendengar yang baik kadang sudah cukup. Dengan nasihat dan kata-kata semangat sudah membuat jiwanya kuat. Dengan dukungan yang diberikan sudah membuat ia tidak merasa sendirian.

Oleh karena itu, jika kita melihat pada kondisi kehidupan masyarakat. Karena didorong fitrah manusia untuk curhat, banyak sekali profesi yang secara tidak langsung sebenarnya berkaitan sebagai tempat curhat. Para dokter selain mengobati juga tempat curhat bagi para pasien. Para konsultan menjadi tempat curhat bagi para kliennya. Ibu menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya. Guru menjadi tempat curhat bagi para muridnya. Pendakwah menjadi tempat curhat bagi umat atau jamaahnya. Murabbi menjadi tempat curhat bagi mutarabbinya. Ulama menjadi tempat curhat bagi masyarakatnya. Pemimpin menjadi tempat curhat bagi rakyatnya. Dan masih banyak yang lainnya, perlu tulisan yang panjang jika disebutkan semuanya.

Curhat bukan kebiasaan manusia zaman sekarang saja. Tapi memang fitrah ini telah ada sejak manusia pertama diciptakan. Mungkin hanya cara curhatnya saja yang berbeda. Bukankah Nabi Adam AS ketika diciptakan oleh Allah di surga sendirian. Lalu ia merasa kesepian, kemudian curhat kepada Allah supaya diberikan teman, maka Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuknya sebagai pendamping. Bukankah Nabi Nuh AS ketika melihat keluarganya akan tenggelam ia curhat kepada Allah supaya mereka diselamatkan, namun Allah mengatakan bahwa sebenarnya mereka bukan termasuk keluarganya karena tidak beriman. Bukankah Nabi Yunus AS ketika berada di dalam perut ikan juga curhat kepada Allah, lalu Allah selamatkan.  Bukankah ketika Nabi Musa AS akan menghadapi Fir’aun juga curhat kepada Allah supaya diangkat Harun AS saudaranya untuk menemaninya karena ia lebih fasih ucapannya. Bukankah Nabi Yusuf AS ketika bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan yang bersujud kepadanya lalu ia curhat kepada ayahnya, lalu ayahnya menyuruhnya untuk merahasiakan dari saudara-saudaranya.

Bukankah Nabi Sulaiman AS ketika mendengar kata-kata raja semut, juga curhat kepada Allah karena bahagia dan bersyukur.Bukankah Maryam ketika akan melahirkan dan duduk keletihan di bawah pohon kurma kemudian curhat kepada Allah, lalu Allah beri pertolongan dengan menggugurkan kurma.  Bukankah Rasulullah ketika mendapat wahyu pertama di gua Hira lalu pulang ke rumah kemudian curhat kepada istrinya, lalu istrinya menghiburnya dengan kata-kata penyemangat. Selain itu Rasulullah setiap malamnya juga curhat kepada Allah pada shalat-shalat panjangnya, sampai-sampai kedua kakinya bengkak. Bukankah Umar bin Khattab yang terkenal keras itu ketika menghadap Allah begitu lembut hatinya melebihi perasaan gadis pemalu sekalipun. Setiap tengah malam curhat kepada Allah sampai janggutnya basah oleh air mata.

Jadi curhat itu, why not? Boleh-boleh saja. Curhat kepada manusia? Juga tidak ada masalah. Asalkan caranya benar, adab-adabnya terjaga. Caranya di antaranya, jika tahadus binnikmah, jangan sampai terbersit rasa sombong, jadikan nikmat kita menjadi penyemangat kebaikan kepada sesama. Jika nikmat itu bersifat rahasia, cukuplah curhat kepada orang-orang yang terpercaya, supaya jangan sampai justru menjadi sebab timbulnya fitnah. Begitu pula jika mendapat musibah, tak perlu menghebohkan musibah kita kepada semua. Karena dikhawatirkan bukan meringankan musibah, malah musibah bertambah dan menunjukkan bahwa kita sebagai orang yang lemah dan suka mengeluh. Tidak sabar menerima takdir. Cukuplah ketika mendapat musibah curhat kepada orang-orang terdekat, yang terpercaya dan mampu membantu, secara material maupun mental.

Begitu pula ketika mendapat kesusahan, tidak perlu curhat kepada semua orang, karena belum tentu dengan berbuat begitu kesusahan akan hilang. Justru hal itu bisa merendahkan harga diri, menyebalkan orang yang mendengar, membuat risih orang sekitar, tetapi cukuplah curhat pada orang tertentu yang mampu memberi solusi. Atau lebih baik lagi simpan kesusahan, cukuplah dilalui dengan kesabaran. Tidak perlu diperlihatkan. Biarlah Allah saja yang tahu, biarlah Allah saja yang membantu, dan biarlah Allah yang memberikan sebaik-baik pahala atas kesabaran.

Namun selain itu semua, jika kita meminta didoakan. Tidak ada salahnya kita meminta kepada siapa saja. Karena meminta doa orang lain adalah dianjurkan. Boleh jadi doa-doa dari orang lain itulah yang Allah kabulkan.  Bukankah ketika meminta doa kepada seseorang tidak perlu menceritakan segalanya apa yang ada pada diri kita.

Lalu bagaimana curhat yang paling baik? Seperti pernyataan di awal tulisan ini, bahwa sebaik-baik curhat adalah curhat kepada Allah, di atas sajadah, di sepertiga malam. Sebagai orang beriman, hendaknya menggantungkan semua urusan kepada Allah. Allah menjadi tempat pertama untuk meluahkan isi hati sebelum kepada yang lainnya. Yakinlah kepada pertolongan Allah, yakin kepada keputusan atau takdir Allah yang ditentukan adalah yang terbaik bagi kita. Karena Allah tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Boleh jadi kadang apa yang kita sangka baik belum tentu baik menurut Allah, dan bisa jadi apa yang kita tidak sukai justru sebenarnya itu yang terbaik untuk kita.

Jadi setiap kali mendapat nikmat atau musibah, yang pertama dan yang utama adalah curhat kepada Allah. Sampaikan dan luahkan apa yang ada di hati kita kepada Allah. Walau pun Allah sebenarnya maha tahu terhadap segala isi hati, namun Dia menyukai jika hambaNya meluahkan hati kepadaNya. Dengan luahan rasa syukur atau pun luahan rasa mengiba, meminta pertolongan. Jika seorang hamba meluahkan rasa bahagia dan syukur atas nikmatNya, maka Dia akan menambahkan nikmat tersebut dan menjadikannya berkah.  Jika seorang hamba mengadu dan meminta pertolongan padaNya, maka Dia akan menghilangkan musibah dan kesusahan atau memberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapinya.

Apa pun yang diperoleh manusia di dunia ini, mulai dari rezeki berupa harta, ilmu, keluarga, kedudukan dan yang lainnya. Semuanya adalah pemberian Allah, bukan semata-mata atas hasil usaha manusia. Usaha manusia itu hanya sebatas perantara. Oleh karena itu manusia tidak boleh melupakan Dzat yang maha memberi segalanya.

Curhat kepada Allah adalah bagian dari mengingat-Nya. Memang sebaik-baik ucapan adalah dzikir. Namun maksud dzikir bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan hati yang selalu mengingat Allah dan terikat denganNya.  Ia sebagai sumber ketenangan.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du:28)

Jadi sebagai seorang mukmin sudah seharusnya hatinya hanya dipenuhi dengan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah adalah yang utama sebelum mencintai yang lainnya. Rasa cinta kepada yang lainnya adalah dalam rangka mendapatkan dan menguatkan cinta kepadaNya.

Sumber ketenangan hanya dari Allah. Tidak ada yang pantas membuat seorang mukmin resah hanya karena hal dunia. Jadi jika kita mempunyai hajat, cukup curhat dan sampaikan kepada Allah. Karena itulah yang utama, sabar dan yakin sebagai syaratnya, dengan begitu Dia akan penuhi segala keperluan kita.  Mulai dari rezeki, ilmu, jodoh,  keturunan, kebahagiaan, kesehatan dan yang lainnya. Semuanya mintalah kepada Allah. Allah pasti akan kabulkan, walaupun kita belum tahu kapan dikabulkannya.  Allah maha tahu kapan waktu yang terbaik untuk memberikan kepada kita apa yang kita hajatkan.  Janji Allah pasti dipenuhi. Oleh karena itu, Curhatlah kepada Allah.

Hambari Nursalam

Tentang Hambari Nursalam

Mahasiswa pascasarjana di International Islamic University Malaysia (IIUM). Ketua Forum Tarbiyah (FOTAR-IIUM). [Profil Selengkapnya]

comments