*
Categories
Menu
Ilustrasi (iluvislam.com)
Akhlak Manifestasi Iman
Sosial
Ilustrasi (iluvislam.com)

Ilustrasi (iluvislam.com)

dakwatuna.com - Salah satu dari beberapa tugas Nabi Muhammad saw di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah SAW bersabda,

Bahwasanya aku diutus Allah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak.” (HR. Ahmad).

Beliau begitu lembut tutur katanya, santun perangainya, dan bijaksana dalam bersikap. Keluhuran akhlak beliau dapat kita mengerti karena beliau merupakan manusia yang terjaga dan dijaga langsung oleh Allah swt. Bahkan ketika beliau berbuat sedikit saja kesalahan langsung mendapat teguran dari Allah swt. Akan tetapi yang lebih penting lagi kita perlu cermati adalah keluhuran akhlak beliau ini merupakan manifestasi keimanan beliau yang begitu besar dan mendalam kepada Allah swt. Tugas di atas tentu saja tidak bersifat parsial tetapi justru holistik atau menyatu, berkait dan berkelindan. Dengan demikian kita pahami bahwa akhlak mulia itu tidak berdiri sendiri di suatu sisi lalu keimanan itu berdiri di sisi yang lainnya. Keduanya adalah satu kesatuan.

Dalam suatu hadits dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah swt tidak memerlukan ibadah yang kita kerjakan, melainkan ibadah yang seorang muslim lakukan adalah demi kebaikan diri mereka sendiri. “Bacalah Kitab (Al-Quran) yang diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut: 45).

Allah swt berfirman, “Bahwasanya Aku menerima shalat hanya dari orang yang bertawadhu dengan shalatnya dengan keagunganKu yang tidak terus menerus berdosa, menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk berdzikir kepadaKu, kasih sayang kepada fakir miskin, ibnu sabil, janda, serta mengasihi orang yang mendapat musibah.” (terjemah Hadits Qudsi, Hadits Riwayat Al Bazzar).

Kondisi faktual iman seseorang dapat diketahui dari perilaku dan akhlaknya. Iman yang kokoh kuat akan dimanifestasikan dalam bentuk akhlak yang baik dan mulia. Sedangkan akhlak yang buruk dan hina adalah gambaran yang diberikan oleh imannya yang lemah. Sosok yang lemah imannya akan mudah tergelincir kepada perbuatan buruk yang merugikan dirinya. Akhlak sendiri adalah suatu sikap perilaku yang spontan dan tidak dibuat-buat. Oleh karena itu reaksi spontan dari kebaikan iman seseorang adalah perilaku dan akhlaknya yang baik.

Guna menjaga stabilitas tingkat keimanan Allah swt telah memperingatkan pada kita dalam firmannya yaitu “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119).

Tuntutan atas iman dan takwa seseorang adalah dengan berbuat baik dan benar. Manifestasi dari ketinggian iman seseorang adalah akhlak dan perbuatan baik yang dilakukan. Rasulullah saw telah memberikan gambaran kelemahan iman seseorang yang berwujud pada hilangnya rasa malu. Rasulullah saw bersabda, “Rasa malu dan iman itu sebenarnya padu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain.”

Berbagai macam bentuk ibadah sebagaimana termaktub dalam rukun Islam seperti shalat, puasa, zakat, dan haji serta ibadah-ibadah sunnah lainnya adalah program-program yang telah diajarkan oleh Islam. Semua program ibadah itu ditetapkan sebagai sarana untuk mensucikan jiwa dan memelihara kehidupannya yang mulia dalam cahaya iman takwa. Sehingga bagi jiwa-jiwa suci yang kehidupannya selalu dipandu cahaya kebenaran itu yang kesehariannya adalah mereka-mereka yang berakhlak yang mulia, berperilaku yang santun, berbudi pekerti yang baik. Sekali lagi, intisari ibadah adalah untuk mensucikan jiwa, hati, dan pikiran untuk memperluas dan memperdalam hubungan dan interaksi dengan Allah swt dan juga sesama manusia serta makhluk Allah swt lainnya.

Rasulullah saw bersabda, “Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan orang yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Bukhari)

Inspirasi Berakhlak yang Baik

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195).

Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah hamba-hamba Allah di pagi hari melainkan dua malaikat turun kepadanya, kemudian salah satu dari keduanya berkata, Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq. Malaikat satunya berkata, Ya Allah berilah kerusakan kepada orang yang tidak mau berinfaq.” (HR Bukhari).

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu dermawan yang menyukai kedermawanan, menyukai akhlak-akhlak yang mulia, dan membenci akhlak yang buruk. (Terjemah, Muttafaquh alaih).

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari) kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (Al Baqarah: 83)

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (An Nisa: 36).

Rasulullah saw bersabda, “Takutlah kalian kepada neraka, kendati hanya dengan separuh biji kurma.” (HR. Bukhari).

Hasan Al Bashri berkata, “Akhlak yang baik ialah wajah yang berseri-seri, memberikan bantuan, dan tidak mengganggu.”

Abdullah bin Al Mubarak berkata, “Akhlak yang baik itu ada pada tiga perkara, menjauhi hal-hal yang diharamkan, mencari hal-hal yang halal, dan memperbanyak menanggung tanggungan.

Ulama yang lain mengatakan, “Hendaknya seseorang banyak merasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikannya, benar tutur katanya, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit salahnya, sedikit berlebih-lebihan, berbuat baik, menyambung hubungan kekerabatan, tenang, sabar, bersyukur, ridha, lembut, menepati janji, tidak meminta-minta, tidak melaknat, tidak menghina, tidak mengadu domba, tidak menggunjing, tidak gegabah, tidak dengki, tidak kikir, berwajah ceria, mencintai seseorang karena Allah, membenci orang karenaNya.”

Keutamaan dalam berakhlak mulia ini kemudian sudah semestinya telah diniatkan karena mengharap ridha Allah semata, tidak mengharap sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekadar ucapan terima kasih. Wallahu alam bish shawab.

Satria Budi Kusuma

Tentang Satria Budi Kusuma

Satria Budi Kusuma, atau yang akrab disapa Satria ini tengah dalam proses merampungkan studinya di jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan UGM. Lahir di Klaten, 2 Juni 1992 silam.… [Profil Selengkapnya]

comments