Menu
Opini

Indonesia Tidak Ramah Lagi

18 Desember 2012

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Dulu saya atau mungkin semua, sering mendengar iklan atau slogan di media yang mengatakan bahwa Indonesia itu ramah, sopan, budayanya santun dan para penduduknya murah senyum dan sebagainya.

Banyak orang non Indonesia (eks patriat) yang awalnya hanya singgah kemudian menjadi tertarik untuk tinggal lebih lama di Indonesia karena katanya penduduknya ramah, baik, sopan santun dan segudang alasan lainnya yang mempersepsikan bahwa orang Indonesia itu punya sikap yang positif.

Sebagai orang yang telah sah secara hukum menjadi warga negara Indonesia (karena saya telah ber-KTP. Yang belum ber-KTP, kewarganegaraannya diragukan) saya tentu meng-amini itu semua. Saya bangga dengan image Indonesia yang masih dipandang baik oleh orang dari negara yang berbeda.

Tapi buat saya, persepsi bahwa Indonesia itu ramah, baik dan sebagainya mesti dikoreksi ulang. Menurut saya itu lagu lama yang sudah tidak laku di pasaran kalau dinyanyikan lagi sekarang. Image dulu yang sudah tidak bisa lagi disematkan sekarang ini untuk Indonesia.

Di zaman yang serba mudah dengan satu klik ini, pergeseran budaya sangat terlihat dan makin jelas terlihat. Orang Indonesia yang katanya ramah itu ternyata sudah kita tidak temukan lagi beberapa tahun belakangan ini. Sayang sekali, terlebih lagi penduduk perkotaan yang sangat dekat sekali dengan yang katanya perkembangan pendidikan dan teknologi modern.

Bukan untuk mendiskreditkan Indonesia, tapi mungkin untuk bahan perenungan. Kita terlalu mudah berlindung dengan image ramah tanpa mau memperbaiki diri.

Coba kita tengok di beberapa media social yang banyak digandrungi orang se Indonesia ini, Facebook dan twitter misalnya. Bukan sebuah rahasia lagi kalau banyak kata-kata kotor yang seharusnya tidak pantas keluar dari penduduk sebuah negara yang katanya “Ramah”.

Saling hujat, saling caci, saling hina, bahkan sudah masuk wilayah yang seharusnya tidak bisa jadi bahan serangan caci maki. Suku, agama, Ras sudah tidak semahal dulu lagi. Zaman sekarang, justru hal-hal semacam itu menjadi bahan utama pembicaraan di media dewasa ini. Kita tidak bisa pungkiri itu.

Hanya karena Berbeda pandangan agama dan politik saja, mereka tidak segan saling ejek dan hina. Bahkan kata-kata yang dikeluarkan itu sudah tidak bisa dikatakan wajar lagi. Padahal banyak dari mereka yang berdebat dan beradu kejahatan verbal itu orang intelek loh, yang dikatakan berilmu dan berpendidikan.

Sudah tidak ada lagi, siapa tua siapa muda. Semua sudah tenggelam dan terlena dalam keinginan yang menggebu-gebu untuk saling menjatuhkan musuh seberang komputernya tersebut. Yang muda tidak ada lagi kata-kata hormat untuk yang tua. Yang tua pun sudah tidak mempedulikan lagi bahwa kata-katanya itu menjadi bahan pendidikan yang buruk bagi yang muda.

Bukan Cuma dengan sesama warga dalam negeri. Ternyata serangan kejahatan verbal itu pun terjadi dengan rekanan luar negeri. Ingat kejadian Indonesia Vs Malaysia di ajang piala AFF? Wuiihh perangnya bukan Cuma di lapangan. Tapi juga saling serang lewat media negara masing-masing, tidak puas dengan itu, para suporter yang katanya “SPORTIF” itu juga saling menyebar kebencian di dunia Facebook dan twitter. Na’udzu billah.

Kalau dikatakan; “itu kan Cuma maya, ngga nyata kok?”. Apakah Anda yakin dengan perkataan ini? Ya memang itu dunia maya yang tidak nyata, akan tetapi si Maya itu tidak akan ada jika tidak digerakkan oleh si yang Nyata.

Maya itu dihidupkan oleh kata-kata kasar hasil lantunan jari-jari yang bersumber dari hati sang pribadi kebencian, dan dia itu orang yang nyata. Jadi maya sama saja nyatanya. Hanya saja maya berhasil menjadi tameng bagi mereka para “pengecut sejati” yang menyembunyikan wajah aslinya.

Status Kita Tetap Muslim

Apapun ceritanya yang terjadi di dunia maya ini, status kita tetaplah orang Islam yang pastinya semua kelakuan dan tindakan serta ucapan kita harus selalu sejalan dan selaras dengan syariat, dengan apa yang telah digariskan oleh agama kita ini.

Ingat hadits Nabi saw yang ini:

“Seorang Muslim ialah yang saudara Muslim lainnya selamat dari (keburukan) TANGAN dan LISAN-nya” (HR Bukhari dan Muslim)

Termasuk kah kita dalam kategori muslim yang dijelaskan oleh Rasul saw tersebut? Apakah orang yang selalu berkata kotor, dan hujat sana sini masih bisa dimasukkan dalam kategori seorang muslim kualifikasi Rasul saw itu?

Lebih tegas lagi, Nabi saw mengatakan: “Bukan dari GOLONGAN KU, dia yang tidak menghormati golongan orang tua, dan dia yang tidak menyayangi golongan orang yang muda dari mereka” (HR Al-Baihaqi/ Syu’abul-Iman, no. 10980)

Tuh, masih mau kita adu jempol saling hina, saling hujat setelah dengar ancaman Nabi saw yang seperti ini? Kita bukan termasuk golongan beliau, kalau bukan golongan beliau, apakah masih bisa kita mencium bau surga?

Jadi tinggal pilih, mau jadi golongan Nabi atau tidak?

Berbeda boleh, beradu argumen puh tidak ada yang larang. Tapi tentu masih tetap dalam koridor koridor adab yang layak. Tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang jorok dan kotor, persis seperti orang yang tidak pernah makan bangku sekolah. Justru dengan kata yang halus namun tegas dan berisi argumen kuat seperti itulah lawan debat kita akan menghargai.

Pun demikian, perdebatan tidak semuanya mesti kita layani kok. Kalau Cuma perdebatan-perdebatan kusir di socmed yang tidak akan ada habisnya, pun itu juga tidak memberikan dampak apa-apa, buat apa di ladeni? Toh kebanyakan mereka yang berdebat itu bukan untuk mencari kebenaran, tapi Cuma untuk unjuk kepintaran dan cari tenar saja.

Nabi saw bersabda: “Aku menjamin satu rumah di sisi surga bagi ia yang mau meninggalkan perdebatan walaupun ia berhak untuk mendebati itu. Dan aku menjamin satu rumah di tengah-tengah surga bagi ia yang meninggalkan kebohongan walaupun dalam canda. Dan aku menjamin satu rumah di surga yang paling tinggi bagi ia yang BAIK AKHLAK-nya” (HR Abu Daud)

Wallahu A’lam.

Ahmad Zarkasih

Tentang Ahmad Zarkasih

Mahasiswa. Lahir di Jakarta tahun 1989. [Profil Selengkapnya]