*
Categories
Menu
Ilustrasi. (123rf.com / Jasmin Merdan)
Pentingnya Perhatian Terhadap Anak
Pendidikan Anak

Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Bismillahirrahmaanirrahim.
Manusia, sebagai makhluk sosial, memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Demikian juga dengan anak-anak, sebagaimana orang dewasa, dia juga butuh berinteraksi dan berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dan komunikasi antara anak dan orang tua sangat penting, di mana hal ini akan membentuk kepribadian anak. Dari interaksi, anak belajar banyak hal, melihat contoh, merasakan dan mengamati. Seluruh sikap dan tingkah orang tua akan menjadi cermin bagi anak-anaknya. Maka orang tua harus memberikan contoh terbaik untuk anak-anaknya. Terlebih lagi ibu, karena secara fitrah, ibulah yang relatif lebih banyak bersama anak. Syair Arab mengatakan bahwa: al Ummu madrasatul ula: ibu adalah sekolah yang pertama (buat anak anaknya).

Bagi seorang anak, perhatian dari orang tua, memiliki arti yang sangat penting. Perhatian akan membuat jiwanya menjadi kaya, dan merasa dirinya dihargai dan dianggap penting. Sebaliknya, jika anak kurang mendapatkan perhatian, dia akan merasa bahwa dirinya tidak penting dan perlahan akan timbul kekecewaan dan putus asa. Sekecil apapun perhatian orang tua terhadap anaknya, menjadi penting bagi perkembangan jiwanya. Meski hanya dalam bentuk belaian, ungkapan/ucapan sayang, senyuman, memuji sikap baiknya, menghargai hasil karyanya, mendengarkan kisahnya, sesekali menemaninya bermain. Kedekatan secara psikologis akan terjalin dengan berbagai aktivitas tersebut. Anak akan merasa nyaman, jiwa nya stabil, dan emosinya terkendali. Semua ini merupakan modal yang sangat penting bagi kehidupan anak di masa yang akan datang. Dalam bergaul di tengah masyarakat kelak, di dalam menghadapi berbagai tugas di tempat kerjanya dan dalam menyelesaikan seluruh persoalan, kestabilan jiwa, pengendalian emosi dan perasaan yang nyaman akan sangat dibutuhkan.

Munculnya berbagai peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh anak dan remaja, yang membuat kita prihatin, adalah menjadi salah satu indikator adanya sesuatu yang kurang beres dalam interaksi orang tua dengan anak. . Miris mendengarnya, ketika masih dalam suasana peringatan hari anak nasional tanggal 23 juli, di Depok, seorang anak umur 14 tahun , melakukan pembunuhan terhadap 2 orang ( Bapak dan anak), dengan dalih masalah ekonomi, dia diiming-imingi motor oleh orang yang menyuruhnya untuk melakukan pembunuhan. Sering juga kita mendengar, kasus –kasus tawuran pelajar antar sekolah, yang terjadi di berbagai daerah. Kasus-kasus seperti ini, muncul karena anak tidak mendapatkan kehangatan jiwa, emosi yang labil mudah tersulut dan perasaan yang tidak nyaman dalam keluarga dan sekelilingnya. Meski benar bahwa lingkungan akan mempengaruhi perilaku seorang anak, tapi manakala nilai-nilai dalam keluarganya kokoh, lingkungan tidak akan memberikan pengaruh besar. Anak punya imunitas/manaah kuat dari pendidikan orang tua di dalam keluarga.

Kisah sedih seputar perhatian terhadap anak

Beberapa tahun lalu, pernah dimuat sebuah kisah nyata di sebuah harian nasional, kisah sedih dari negeri seberang. Di sebuah keluarga yang cukup berada. Suami istri berkarir di luar rumah. Anak perempuannya selama ini di rumah ditemani oleh pembantunya saja. Suatu hari, anaknya berharap ketika ibunya pulang kantor, dia akan menunjukkan hasil karyanya di sekolah kepada ibunya. Dia berharap sang ibu akan memuji dan menghargai hasil karyanya. Tapi apa yang terjadi, sang ibu pulang dari kantor tidak mempedulikan hasil karya anaknya, dan menyuruhnya untuk disimpan dulu, dia capai mau istirahat.

Duhai, betapa sedih dan hancur hati anak tersebut. Harapannya hilang, senyumnya hambar, matanya basah diusapnya dengan ujung jarinya sambil lari menuju kamar pembantunya. Semalaman sang anak meratapi kesedihannya, kecewa batinnya terhadap sikap ibunya. Pikirannya mulai mengembara, gerangan apa yang dilakukannya untuk membalas kekecewaan hatinya.

Syetan pun menggodanya, dan memberikan inspirasi. Pagi hari ketika ibunya mau berangkat ke kantor, betapa kaget dan kesal hati sang ibu, ketika mendapatkan body mobil kesayangannya penuh dengan goresan-goresan kasar dari benda-benda runcing/tajam. Ini semua dilakukan oleh sang anak, sebagai kompensasi kekesalan terhadap ibunya. Ibu karena kalap, begitu mengetahui bahwa semua itu karena ulah anaknya, spontan memukul tangan anaknya dengan sebuah benda. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, ternyata bekas pukulan tadi membuat tangan anak luka dan tak kunjung sembuh, menjadi borok yang oleh dokter direkomendasikan agar diamputasi.

Tragis dan miris…….. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Penyesalan besar yang berawal dari kurang kesadaran dan kemauan seorang ibu untuk bisa memberikan perhatian tulus kepada anaknya. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan disalahkan? Belajar dari kesalahan orang lain, mestinya membuat kita sebagai orang tua semakin arif /bijaksana dalam berinteraksi dengan anak-anak kita. Anak adalah amanah dari Allah yang kelak harus kita pertanggungjawabkan kepadaNya. Hadir ke dunia dalam keadaan fitrah, harus kembali kepadaNya juga dalam keadaan fitrah. Kullu maulidin yuuladu alal fitrah. Selamat menikmati hari bersama buah hati.

Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Tentang Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.… [Profil Selengkapnya]

comments
  • ruli zelia w

    Subhanallah……., benar2 menambah waasan saya dalam mendidik ank2 saya