Menu
Essay

Menyapa Sahabat Dakwah

24 Juli 2012

Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com – Kaifa haluk ya, ukh?

Alhamdulillah, ada jeda dalam ruang waktu untuk sekadar mencoret-coret layar note book, meluapkan apa yang dirasa ^^.

Entah mengapa diri ini teringat beberapa sahabat dalam medan juang, anti, ukh ^_^ yang sudah cukup lama kita tak saling berjabat tangan untuk sekadar menyapa… hem, kita sibuk dengan urusan masing-masing ya ukh? Mudah-mudahan kesibukan ini, tak membuat lupa untuk memperbaiki kondisi diri, umat juga tentunya.

Gimana kabar tarbiyah anti? Qiyamul lail masihkah terjaga? Tilawah Qur’an yang tak pernah luput untuk dilantunkan… juga target gerakan membantu saudara kita, untuk menemukan jalan hidayah, gimana? Semoga semakin berkualitas…

Huffh… terik sang Raja Siang ini berhasil membuat tubuh mengucurkan banyak peluh, Maha Gagah Allah… ini masih panas di planet Bumi, tak akan dirasa lagi bila kita sudah dilabuhkan pada surga Nya, yang begitu nyaman. Ah… tak terkatakan kenikmatannya di sana, apalagi jika kita bisa berkumpul bersama merasakannya kelak. Amin ya Robb…

Ukh, sepenuh hati Ana harap tiada beban yang sedang menyusahkan anti kini. Harapku tiada masalah berarti yang mampu mengendurkan semangatmu. Meski kita tak bersama, tapi dipertemukanNya selalu dalam rindu. Maafkan Ana. Maafkan Ana yang jarang atau bahkan tidak lagi pernah sms anti, mungkin Ana jarang menanyakan kabar anti atau bahkan tidak bisa membantu menyelesaikan beban amanah anti sekarang ini. Tapi tak henti dalam tahajud malam-malam itu, Ana selalu memohon yang terbaik. Kala tiba waktunya satu-persatu hikmah ‘kan menjawab doa-doa Ana. Amin ukh yaa…

Ukh, kini Ana sedang Praktik Pengalaman Lapang/PPL (praktik mengajar di sekolah, wajib bagi Mahasiswa Fak. Keguruan), selama 2,5 bulan ke depan. Menghabiskan cukup banyak waktu untuk melatih diri sebagai seorang Pendidik. Hem.. keseharian menghadapi pola tingkah anak remaja yang lapar-dahaga dengan ilmu, ada yang polos (seperti kertas putih, bisa Ana gambar apa saja), ada yang luar binasa ^^ (butuh perhatian spesial), teringat dulu, ketika diri ini masih jahiliah saat SMA… belum lagi menghadapi tipe-tipe pendidik tetap di sekolah itu… ya, inilah kondisi umat ukh, ladang amal yang terbentang luas, menumbuh-kembangkan bibit-bibit kebaikan, meluruskan pemikiran salah kaprah yang sudah membudaya. Ini baru di satu lembaga, ukh!

Beberapa pekan ini sungguh, Ana merasa tidak bisa berkontribusi maksimal dalam organisasi yang sudah memberikan Ana amanah. Ana takut ukh… pertanggungjawaban di hadapan Allah nanti…

Ana sempat berpikir, beberapa hal atau impian yang Ana harapkan tidak tercapai itu merupakan iqob bagi Ana! Karena kerja dakwah ini tidak maksimal. Ana malu, ketika meminta hal yang lebih pada Nya, namun pengorbanan yang Ana persembahkan di jalan ini sungguh tak seberapa… meski Ana tahu, bahwa Allah Maha Pemurah pada hambaNya.

Hem…ukh, Ana merindu syura’ yang biasanya kita mulai pkl.6 pagi…, merindu agenda dakwah kampus yang kita adakan bersama, dan tentunya merindu melihat semangat dakwah anti yang menyala-nyala, sampai lupa waktunya makan, kalau tidak diingatkan. Berpanas-panas ria dalam aksi, dan diskusi renyah tentang problematika umat, pengkaderan, sampai pada persiapan menjadi seorang ummahat ^^, ummahat yang penuh semangat membina jundi yang shalih/shalihah dalam keluarga, plus ummahat yang kelak teteup eksis dalam dakwah, dan aksi? Hehe…

Ukh, Ana ingin cerita… Semoga anti bisa mengambil hikmahnya…

Setiap Jum’at di kampus kita kan ada gerakan White Jilbab n Koko day’s ya bagi ADK Unila, Ana sangat terkesan pada akhwat kita yang amat konsisten dengan budaya ini, meski jilbab putih beliau cuma satu-satunya yang dimiliki, setelah dipakai hari Kamis sebagai dress code sebuah agenda, malamnya ia cuci dan keringkan untuk dipakai di hari Jum’atnya. Ketika ditanya, kenapa sampai sebegitunya? ‘Musuh akan gentar ukh, jika melihat kita kompak!’ Jawabnya dengan senyum semangat. Ana membayangkan jika ADK Unila itu semua punya pola pikir seperti beliau untuk sehariiii saja konsisten pakai jilbab putih bagi akhwat, dan baju koko bagi ikhwan, sungguh simbolisme islami yang kokoh dan rapih terkoordinir! Tidak perlu lagi lah itu kotak iqob! Sehariiii saja menjadikan kampus ini seperti pesantren, ya pesantrennya kaum intelektual muda di Lampung, bahkan Indonesia…

Hem,… yang tak surut semangatnya adalah cerita dari senior akhwat kita, ketika kini ia menjadi tulang punggung keluarganya karena ayah sudah tiada, beliau harus membagi waktunya dengan ekstra efisien, antara mencari ma’isyah, mereguk ilmu dalam tarbiyah, serta membina kader dakwah kita. Tidak Ana temui raut wajah lelah dan untaian keluh dari beliau. Subhanallah ya ukh… Ana tidak bisa membayangkan, betapa bidadari cemburu padanya.

Beda lagi cerita adik tingkat kita, ia ingin hijrah memakai jilbab, namun keluarganya tidak sepakat dengan keputusan beliau, jika di kampus ia memakai jilbab, ketika pulang ke rumah, jilbabnya dilepas paksa… karena takut beliau ikut jaringan teroris yang dibicarakan media TV. Perih ya ukh, ketika di luar sana ada orang tua yang justru mengharapkan putrinya memakai jilbab, namun sang putri lebih nikmat menjajakan auratnya untuk dilihat banyak orang…

Ada lagi ukh kisah yang dialami dari seorang ikhwah kita, beliau PPL di salah satu sekolah. Sekolah itu punya budaya bersalaman, antara murid dengan guru, guru dengan guru beserta karyawan, pokoknya semua masyarakat sekolah tersebut musti bersalaman. Bagus kan budayanya? Tapi maaf, itu campur baur (bersalaman dengan lawan jenis juga). Ketika sang ikhwah ini ingin mempertahankan prinsipnya dalam menjaga diri, menjalankan syari’ahNya untuk bersalaman dengan muhrimnya saja, apa yang terjadi? Sang penguasa sekolah tersebut bicara dengan tegasnya, ‘sekolah kami tidak akan menerima mahasiswa PPL yang tidak mau bersalaman dengan lawan jenis!’ Dan anti tau, penguasa sekolah tersebut melontarkan kalimat itu ketika upacara hari Senin saat penyambutan mahasiswa PPL, yang tentunya disaksikan oleh semua masyarakat sekolah. Kini ia terpaksa menuruti apa titah sang penguasa sekolah itu… ia merasa seperti seorang munafik yang sangat lemah… di sana ia begitu, di sini ia begini.

Mungkin Allah ingin menguji, seberapa besar cinta kita pada Nya dengan pengorbanan untuk merealisasikan syari’atNya…  seperti perjuangan Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi masalah besar dan bersedih, Allah selalu menghiburnya dengan sejarah Nabi-Nabi sebelumnya. Itu seperti pesan, bahwa beliau tidak sendiri dalam perjuangannya. Ini adalah mata rantai kenabian yang panjang, menghadapi tantangan yang sama…

Tapi…Di lain sisi ukh, ada cerita dari ikhwah kita yang terkena penyakit, ya penyakit klasik yang menjangkiti seorang kader, apalagi kalau bukan Virus Merah Muda! Kenapa ya ukh, proyek musuh Allah yang satu ini senantiasa ada dalam cerita perjalanan indah kita, lelah Ana jika urusan kita masih berkutik pada problem internal! Tak tergiurkah kita dengan janjiNya, yang sudah Allah siapkan bagi mereka yang bersabar? Bersabar dalam penantian suci…   pandangan orang amah di luar sana, menjudge kita sama saja. Hem, karena nila setitik, rusak susu sebelangga. Semoga Allah senantiasa menjaga izzah kita sebagai pejuang agama Nya…

Ehm, afwan ya ukhti. Kalo cerita-cerita itu justru membuat anti semakin pusing atau malah kecil hati. Tapi karena hanya cerita-cerita yang Ana temui di lapangan inilah, yang bisa Ana berikan ke anti, dengan harapan semoga anti juga Ana lebih tegar melangkah, memicu semangat, dan membuat dobrakan-dobrakan dakwah.

Ukh, tetap semangat& istiqamah ya! Jangan mundur, jangan lelah, jangan mudah kecewa, karena kita adalah pilihan Allah untuk menjadi penerang dalam suramnya sebuah kondisi, maka mari bercahaya-lah ukh! Rabbi, jagalah kami…

 

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
Buah dari sabar meniti jalan,
teguh dalam barisan
Istiqamah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
Berjalan lurus jauh dari penyimpangan.

Tentang Sufiroh al khumair

Sang Melankolis - Sanguinis yang ingin mendekap ridha Nya dalam tulisan dakwah. [Profil Selengkapnya]