Menu
Opini

Bersatu karena Perbedaan, Bangkitlah Ummat Islam, Ini Tanda dari Allah SWT

9 September 2011

Ilustrasi (tdjamaluddin.wordpress.com)

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. 94 : 6)

dakwatuna.com - Lebaran 1432 Hijriah menyisakan tanda tanya. Yakni perbedaan dalam penetapan 1 Syawal 1432 H. Ummat Islam meskipun sudah memaklumi dan semakin dewasa akan fenomena ini, tetap menyimpan tanda tanya. Apakah perbedaan ini selamanya tidak bisa dicari jalan tengahnya. Dari pertanyaan itu saya mencoba sedikit memberikan formula solusinya. Mungkin bukan formula terbaik, dan Anda bisa menambahkannya agar lebih sempurna.

Menyatukan Perbedaan

Saya tidak akan membahas perbedaan antara Hisab dan Rukyat. Saya hanya membahas perbedaan pendapat bahwa penentuan tanggal hijriyah itu ditentukan oleh masing-masing daerah atau ikut dengan keputusan ulama Mekah yang dianggap sebagai pusat “kelahiran” Islam di sana.

Jika penentuan tanggal hijriyah ditetapkan oleh masing-masing daerah muslim, maka perbedaan ini selamanya tak akan ketemu solusinya. Berbeda jika umat ini bersepakat untuk mengikuti pedoman ulama Mekah.

Dari sini, kita bisa menjadikan kesepakatan bersama untuk merujuk ulama Mekah itu sebagai peluang bersatunya dunia Islam. Definisi ulama Mekah yang saya maksudkan adalah bukan hanya ulama yang ada di Mekah saja. Tetapi ulama dari seluruh dunia Islam, yang ditunjuk oleh negaranya sebagai duta ulama berkumpul di Mekah untuk menyepakati berbagai khilafiyah yang ada di umat ini.

Bisa jadi ada di antara khilafiyah itu yang sama sekali tidak bisa disatukan, namun setidaknya ada jalan tengah yang disepakati sehingga bisa menjadi kesepahaman bersama dan menghindarkan konflik sesama muslim.

Salah satu yang bisa disepakati adalah menyatukan perbedaan penentuan tanggal Hijriyah. Saya yakin penyatuan pandangan yang berbeda tentang tanggal hiriyah adalah sangat mungkin sekali. Dan ini berpeluang besar bagi ummat Islam untuk memiliki sendiri perhitungan waktu Islam sebagaimana saat ini waktu yang kita gunakan berpedoman pada Greenwich. Maka ini peluang bagi para ulama dan ahli falak Islam untuk membuat Mecca Mean Time (MMT) di samping Greenwich Mean Time (GMT). Bukankah di Mekah sudah ada jam raksasa? Adalah sangat mubazir jika jam itu hanya sebagai penghias belaka sementara keberadaannya tidak bermanfaat lebih besar lagi bagi ummat.

MMT dan GMT

Menentukan MMT menurut saya yang sangat awam dunia falak tidaklah sulit. Kita tinggal mengedit apa yang sudah ada di GMT. Misal, Indonesia memiliki waktu GMT+7. Ini artinya jika di Greenwich jam 00.00 WIB (dini hari) tanggal 2 September, maka di Indonesia adalah jam 07.00 WIB (pagi) tanggal 1 September. Dan Indonesia masuk tanggal 2 September setelah 17 jam berikutnya.

Mekah memiliki zona waktu GMT+3. Ini artinya jika kota Mekah dijadikan sebagai pusat perhitungan waktu Islam menjadi MMT, maka Indonesia memiliki zona waktu MMT+4. Karena selisih Indonesia dan Mekah hanya 4 jam. Dan Greenwich berubah zonanya menjadi MMT-3.

Fungsi MMT untuk penetapan Hijriah

Pandangan saya, jika Mekah benar-benar menjadi pusat perhitungan waktu Islam, maka seluruh perhitungan kalender Hijriyah bisa menggunakan turunan keputusan itu. Perhitungan 1 Syawal misalnya, jika Mekah sudah memasuki tanggal 1 Syawal maka Indonesia masuk tanggal 1 Syawal 20 jam kemudian.

Penetapan tanggal hijriyah dihitung sejak matahari terbenam. Maka terbenamnya matahari di Mekah sebagai 1 Syawal akan diikuti oleh terbenamnya matahari di langit Indonesia pada 20 jam kemudian.

Penetapan Hilal

Penetapan hilal pertama kali terjadi di kota Madinah,

Berpuasalah bila kalian melihatnya (hilal) dan akhirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal). Tetapi jika terhalang maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari. (HR. Bukhari-Muslim)

Hadits ini menceritakan tentang penetapan Hilal untuk puasa Ramadhan. Sementara puasa Ramadhan diperintahkan Allah swt oleh firman-NYA yang turun di fase Madinah,

QS. Al Baqarah: 183. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”

Sehingga ada riwayat Imam Muslim yang menceritakan perbedaan tentang Ru’yat Hilal ini,

dari Kuraib sesungguhnya Ummul Fadlal binti al-Harits telah mengutusnya ke Mu’awiyah di Syam (Syiria). Ia berkata, saya telah sampai di Syam lalu saya menyelesaikan keperluannya (Ummul Fadlal) dan nampaklah padaku hilal bulan Ramadhan sedangkan saya berada di Syam dan saya melihat hilal pada malam Jum’at, lalu sampai di Madinah akhir bulan (Ramadhan). Saya ditanya oleh Abdullah bin Abbas lalu ia mengatakan tentang hilal, lalu ia bertanya: “Kapan kalian melihat hilal?”, saya menjawab: “Kami melihatnya malam Jum’at?” Ia bertanya: “Engkau melihatnya sendiri?”, saya menjawab: “Ya, bahkan orang-orang juga melihatnya lalu mereka shaum dan Mu’awiyah pun shaum”, Ia berkata: “Akan tetapi kami melihat hilal malam Sabtu, oleh karena itu kami akan terus shaum sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihat hilal”, Saya bertanya: ”Apakah Anda tidak merasa cukup dengan rukyat Mu’awiyah dan shaumnya?”, Ia menjawab: “Demikianlah Rasulullah saw memerintahkan kepada kami”. (H.R. Muslim).

Menurut saya, sebaiknya para ulama dunia berkumpul di kota Mekah untuk melakukan ru’yatul hilal di sana. Karena Rasul saw melakukannya di sana. Hasilnya nanti akan menjadi panduan ummat sedunia berdasarkan zona waktunya masing-masing sebagaimana bahasan saya di atas. Jangan sampai Indonesia karena merasa lebih dekat dengan Mekah selisih waktu 4 jam, kemudian lebaran duluan. Karena jika dihitung berdasarkan zona waktu maka Indonesia akan masuk 1 Syawal 20 jam kemudian. Tetapi ini baru pendapat saya. Barangkali para ulama dan ahli Islam dunia memiliki pandangan yang lebih bijaksana.

Kita simak peta zona waktu GMT berikut ini,

Menurut zona waktu di atas negeri Syam dan kota Madinah berada di satu zona waktu. Sebagaimana hadits Kuraib di atas. Maka lokasi pemantauan ru’yatul hilal dilakukan di lokasi yang masih berada pada satu zona waktu dengan kota Mekah.

Indonesia zona waktunya GMT+7, kota Mekah GMT+3. Jika masing-masing diberi hak untuk melakukan ru’yatul hilal, maka hasilnya akan terus mengalami perbedaan selamanya. Maka, inilah saatnya kita bersatu.

Kebangkitan Khilafah Islam

Bersatunya ulama dunia untuk membahas satu permasalahan ini, zona waktu Islam, akan menjadi awal untuk bersatunya dunia Islam dalam berbagai hal berikutnya. Termasuk bibit bangkitnya Khilafah Islam. Maka, jika tidak sekarang kapan lagi, jika bukan kita yang mengawali … siapa lagi?

Wallahu A’lam.

Lukman Sulistyo