*
Categories
Menu
Ilustrasi (tdjamaluddin.wordpress.com)
Bersatu karena Perbedaan, Bangkitlah Ummat Islam, Ini Tanda dari Allah SWT
Opini

Ilustrasi (tdjamaluddin.wordpress.com)

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. 94 : 6)

dakwatuna.com - Lebaran 1432 Hijriah menyisakan tanda tanya. Yakni perbedaan dalam penetapan 1 Syawal 1432 H. Ummat Islam meskipun sudah memaklumi dan semakin dewasa akan fenomena ini, tetap menyimpan tanda tanya. Apakah perbedaan ini selamanya tidak bisa dicari jalan tengahnya. Dari pertanyaan itu saya mencoba sedikit memberikan formula solusinya. Mungkin bukan formula terbaik, dan Anda bisa menambahkannya agar lebih sempurna.

Menyatukan Perbedaan

Saya tidak akan membahas perbedaan antara Hisab dan Rukyat. Saya hanya membahas perbedaan pendapat bahwa penentuan tanggal hijriyah itu ditentukan oleh masing-masing daerah atau ikut dengan keputusan ulama Mekah yang dianggap sebagai pusat “kelahiran” Islam di sana.

Jika penentuan tanggal hijriyah ditetapkan oleh masing-masing daerah muslim, maka perbedaan ini selamanya tak akan ketemu solusinya. Berbeda jika umat ini bersepakat untuk mengikuti pedoman ulama Mekah.

Dari sini, kita bisa menjadikan kesepakatan bersama untuk merujuk ulama Mekah itu sebagai peluang bersatunya dunia Islam. Definisi ulama Mekah yang saya maksudkan adalah bukan hanya ulama yang ada di Mekah saja. Tetapi ulama dari seluruh dunia Islam, yang ditunjuk oleh negaranya sebagai duta ulama berkumpul di Mekah untuk menyepakati berbagai khilafiyah yang ada di umat ini.

Bisa jadi ada di antara khilafiyah itu yang sama sekali tidak bisa disatukan, namun setidaknya ada jalan tengah yang disepakati sehingga bisa menjadi kesepahaman bersama dan menghindarkan konflik sesama muslim.

Salah satu yang bisa disepakati adalah menyatukan perbedaan penentuan tanggal Hijriyah. Saya yakin penyatuan pandangan yang berbeda tentang tanggal hiriyah adalah sangat mungkin sekali. Dan ini berpeluang besar bagi ummat Islam untuk memiliki sendiri perhitungan waktu Islam sebagaimana saat ini waktu yang kita gunakan berpedoman pada Greenwich. Maka ini peluang bagi para ulama dan ahli falak Islam untuk membuat Mecca Mean Time (MMT) di samping Greenwich Mean Time (GMT). Bukankah di Mekah sudah ada jam raksasa? Adalah sangat mubazir jika jam itu hanya sebagai penghias belaka sementara keberadaannya tidak bermanfaat lebih besar lagi bagi ummat.

MMT dan GMT

Menentukan MMT menurut saya yang sangat awam dunia falak tidaklah sulit. Kita tinggal mengedit apa yang sudah ada di GMT. Misal, Indonesia memiliki waktu GMT+7. Ini artinya jika di Greenwich jam 00.00 WIB (dini hari) tanggal 2 September, maka di Indonesia adalah jam 07.00 WIB (pagi) tanggal 1 September. Dan Indonesia masuk tanggal 2 September setelah 17 jam berikutnya.

Mekah memiliki zona waktu GMT+3. Ini artinya jika kota Mekah dijadikan sebagai pusat perhitungan waktu Islam menjadi MMT, maka Indonesia memiliki zona waktu MMT+4. Karena selisih Indonesia dan Mekah hanya 4 jam. Dan Greenwich berubah zonanya menjadi MMT-3.

Fungsi MMT untuk penetapan Hijriah

Pandangan saya, jika Mekah benar-benar menjadi pusat perhitungan waktu Islam, maka seluruh perhitungan kalender Hijriyah bisa menggunakan turunan keputusan itu. Perhitungan 1 Syawal misalnya, jika Mekah sudah memasuki tanggal 1 Syawal maka Indonesia masuk tanggal 1 Syawal 20 jam kemudian.

Penetapan tanggal hijriyah dihitung sejak matahari terbenam. Maka terbenamnya matahari di Mekah sebagai 1 Syawal akan diikuti oleh terbenamnya matahari di langit Indonesia pada 20 jam kemudian.

Penetapan Hilal

Penetapan hilal pertama kali terjadi di kota Madinah,

Berpuasalah bila kalian melihatnya (hilal) dan akhirilah shaum bila kalian melihatnya (hilal). Tetapi jika terhalang maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari. (HR. Bukhari-Muslim)

Hadits ini menceritakan tentang penetapan Hilal untuk puasa Ramadhan. Sementara puasa Ramadhan diperintahkan Allah swt oleh firman-NYA yang turun di fase Madinah,

QS. Al Baqarah: 183. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”

Sehingga ada riwayat Imam Muslim yang menceritakan perbedaan tentang Ru’yat Hilal ini,

dari Kuraib sesungguhnya Ummul Fadlal binti al-Harits telah mengutusnya ke Mu’awiyah di Syam (Syiria). Ia berkata, saya telah sampai di Syam lalu saya menyelesaikan keperluannya (Ummul Fadlal) dan nampaklah padaku hilal bulan Ramadhan sedangkan saya berada di Syam dan saya melihat hilal pada malam Jum’at, lalu sampai di Madinah akhir bulan (Ramadhan). Saya ditanya oleh Abdullah bin Abbas lalu ia mengatakan tentang hilal, lalu ia bertanya: “Kapan kalian melihat hilal?”, saya menjawab: “Kami melihatnya malam Jum’at?” Ia bertanya: “Engkau melihatnya sendiri?”, saya menjawab: “Ya, bahkan orang-orang juga melihatnya lalu mereka shaum dan Mu’awiyah pun shaum”, Ia berkata: “Akan tetapi kami melihat hilal malam Sabtu, oleh karena itu kami akan terus shaum sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihat hilal”, Saya bertanya: ”Apakah Anda tidak merasa cukup dengan rukyat Mu’awiyah dan shaumnya?”, Ia menjawab: “Demikianlah Rasulullah saw memerintahkan kepada kami”. (H.R. Muslim).

Menurut saya, sebaiknya para ulama dunia berkumpul di kota Mekah untuk melakukan ru’yatul hilal di sana. Karena Rasul saw melakukannya di sana. Hasilnya nanti akan menjadi panduan ummat sedunia berdasarkan zona waktunya masing-masing sebagaimana bahasan saya di atas. Jangan sampai Indonesia karena merasa lebih dekat dengan Mekah selisih waktu 4 jam, kemudian lebaran duluan. Karena jika dihitung berdasarkan zona waktu maka Indonesia akan masuk 1 Syawal 20 jam kemudian. Tetapi ini baru pendapat saya. Barangkali para ulama dan ahli Islam dunia memiliki pandangan yang lebih bijaksana.

Kita simak peta zona waktu GMT berikut ini,

Menurut zona waktu di atas negeri Syam dan kota Madinah berada di satu zona waktu. Sebagaimana hadits Kuraib di atas. Maka lokasi pemantauan ru’yatul hilal dilakukan di lokasi yang masih berada pada satu zona waktu dengan kota Mekah.

Indonesia zona waktunya GMT+7, kota Mekah GMT+3. Jika masing-masing diberi hak untuk melakukan ru’yatul hilal, maka hasilnya akan terus mengalami perbedaan selamanya. Maka, inilah saatnya kita bersatu.

Kebangkitan Khilafah Islam

Bersatunya ulama dunia untuk membahas satu permasalahan ini, zona waktu Islam, akan menjadi awal untuk bersatunya dunia Islam dalam berbagai hal berikutnya. Termasuk bibit bangkitnya Khilafah Islam. Maka, jika tidak sekarang kapan lagi, jika bukan kita yang mengawali … siapa lagi?

Wallahu A’lam.

comments
  • Sayurhaseum

    ketetapan indonesia mesti menunda 20 jam ini tentunya masih menyisakan keganjilan-keganjialan antara lain adalah, bukankah tanggal 1 masehi di indonesia = 1 masehi di arab saudi baik matahari ataupun bulan tetap saja pedoman kita adalah al qur’an wala lailu saabiqun nahar dan sebaliknya wala nahaaro saabiqun nahar alias matahari tidak akan mendahului bulan atau bulan tidak akan mendahului matahari. siang tidak akan mendahului malam atau malam tidak akan mendahului siang. karena keduanya berjalan saling mengikuti ngak bakalan susul menyusul seperti bis kota. kita yang hanya berbeda 4 jam tentu saja kalau mengikuti ilmu fisika tetap harus duluan, logika terbalik yang anda pakai dimana mekah sebagai titik pusat penentuan yang mengharuskan indonesia menunda lebaran tentu saja tidak bisa dibenarkan. (kalau secara ilmu fisika dan ilmu astronomi). sedang secara syari’at maka dalil umum menegaskan berpuasalah bila melihat hilal dan berbuka bila melihat hilal dan telah bersepakat ulama bahwa bisa saja hilal di masing-msing tempat itu berbeda. sedngkan hadits mu’awiyah diatas maka perhatikanlah beberapa hal berikut : 1. kenapa penduduk madinah mengatakan Kami melihat pada malam sabtu ? 2. Pada hari apakah muawiyah berada dimadinah ? tentu saja jawabannya adalah penduduk madinah tengah melaksanakan shaum pada hari jum’at dikarenakan tidak melihat hilal pada malam jum’at dan bisa jadi hari itu tengah sore hari yang mana perjalanan mu’awiyah dari syam ke madinah dengan menggunakan onta (kira-kira berapakah perhitungan waktu yang diperlukan oleh muawiyah ra untuk sampai ke madinah sedang malam jum’at masih berada di syams/dgn mberkendara onta bukan mobil atau pesawat). dan dapat dipastikan kalau mu’awiyah berada dimadinah pada hari jum’at tengah manusia menjalankan shaum dan lain halnya kalau kasus itu terjadi masing-masing mereka sesama mukim.

    adapun secara dirayah hadits tersebut maka hanya berpredikat mursal sahabat yang memang boleh digunakan dalil yang apabila tidak bertentangan dengan hadits yang lebih sohih darinya sedangkan perbuatan rasulullah adalah :
    Dari Abu Umairah Ibnu Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu
    dari paman-pamannya di kalangan shahabat bahwa suatu kafilah telah datang, lalu
    mereka bersaksi bahwa kemarin mereka telah melihat hilal (bulan sabit
    tanggal satu), maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka
    agar berbuka dan esoknya menuju tempat sholat mereka. Riwayat Ahmad dan Abu
    Dawud. Lafadznya menurut Abu Dawud dan sanadnya shahih.

    oleh karenannya maka perbuatan rasulullah lebih diutamakan dibandingkan perbuatan sahabat. oleh karenannya hadits riwayat muslim diatas dha’if secara dirayah. pun mursal secara riwayah.

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=713908875 Ruly Achdiat

    Berdasarkan tulisan Hamza Yusuf, ada bagian yang ingin saya quote karena menjadi esensi terhadap ru’yat:

    Berdasarkan sebuah hadits, Nabi SAW menyatakan, “Bulan itu 29-hari, maka janganlah kamu berpuasa hingga kamu melihat bulan [hilal] dan janganlah berbuka [maksudnya Idul Fitri] hingga kamu melihat bulan [hilal].” Hadits ini adalah keajaiban mu’jizat karena [satu] bulan itu tidak pernah lebih dari 29.8 hari. Perpisahan [garis bulan dan garis matahari] selalu terjadi pada hari ke-29 siklus bulan, namun apabila jumlah jam yang tersisa di hari itu tidak cukup untuk bulan sabit [hilal] muncul dari senja malam ke-30 maka [hilal] ini tidak akan bisa terlihat, dan kemudian [hilal] pasti akan bisa terlihat pada malam ke-31 terhitung dari awal bulan sebelumnya kecuali jika [bulan sebelumnya] sudah keliru, yang mana memang bisa terjadi [kekeliruan itu] namun akan kembali benar dengan sendirinya.Poin ini tidak diperhatikan samasekali oleh yang berpendapat mendukung hisab. Bahkan kenyataannya, sebagian ulama’ menganggap fakta bahwa dalam hadits Nabi SAW menyebutkan bahwa bulan itu 29-hari sebagai sesuatu yang problematis, karena bulan itu kadang 29-hari atau 30-hari. Namun hadits ini juga sangat jelas dan selaras dengan sains modern, sebagaimana siklus bulan tidak akan pernah melebihi 29.8 hari yang berarti kurang dari 30-hari persis seperti yang Nabi SAW katakan!Terlebih lagi, khalifah ‘Umar memerintahkan umat Islam agar tidak mempermasalahkan ukuran relatif dari bulan baru [hilal]. Beliau memberitahu umat Islam bahwa dalam beberapa bulan, [hilal] akan lebih besar dari dalam bulan-bulan yang lain, yang mana konsisten dengan ilmu modern yang menyatakan ini dikarenakan [perbedaan] jumlah jam semenjak konjungsi [ijtima’, segaris] terjadi.Dalam suatu hadits shohih di bab puasa kitab Shohih Muslim, Ibnu ’Abbas menyampaikan kepada umat bahwa Nabi SAW memberitahunya bahwa alasan [hikmah mengapa] Allah memberi 2 hari untuk bulan dilahirkan [kembali] adalah untuk memastikan bahwa hamba-Nya akan benar-benar melihatnya![catatan penerjemah: bila terlalu singkat fase bulan mati alias hilangnya bulan, ada kemungkinan orang akan terlewat mengamati (baca: melihat dengan mata kepala sendiri) kapan hilang dan munculnya bulan karena terlalu cepat berlalu].Ini adalah bukti yang jelas bahwa ru’yah [melihat dengan mata kepala sendiri] adalah ’illat, atau ratio legis [alasan/sebab dari suatu hukum] karena kata-sambung (particle, hurf) yang bermakna alasan (lam at-ta’lil) dipergunakan di hadits tersebut [li ru’yatihi – dikarenakankamu telah melihatnya (hilal)].Lengkapnya ada di sini: https://bitly.com/nltVsA

  • Sayurhaseum

    kalau saja sekirannya pada malam muawiyah ra melihat hilal tersebut beliau langsung menelpon pake hp ke penduduk madinah bahwa beliau telah melihat hilal pada malam itu maka saya yakin penduduk madinah besoknya dihari jum’at mereka akan berlebaran. afwan jiddan akhi semuannya hanya mengkomparasikan dengan keadaan sekarang yang serba canggih dan komunikasi bisa didapatkan dengan cepat.

  • http://pulse.yahoo.com/_2Y6XCMODXXCAKSPF222VFATC6E lukman

    Terima kasih. Artikel saya di atas adalah ide. Jika ada kekurangannya mohon dikoreksi, diperbaiki, dan mari bersama kita membuka jalan utk persatuan dan kesatuan ummat Islam. Songsong kejayaan Islam di masa mendatang.

  • Tasnimsoleh

    Sebenarnya jika umat Islam Seluruh Dunia Baca Al-Quran Surah Al Maidah Ayat 97  (5:97 ) sudah pasti Khilafah kebenaran Islam akan menjadi pemimpin didunia ini bukan yahudi ,,,,,,5:97 (tentang Mekah)

  • Orgenesasi

    Saya kira mungkin itu salah satu solusi ….tapi yang jadi permasahannya umat Islam di Indonesia “masih mementingkan pendapat golongannya(ormasnya) masing-masing mengklim semua pendapatnya benar….ya …no len polen……seperti yang kita lihat…..

  • http://pulse.yahoo.com/_2Y6XCMODXXCAKSPF222VFATC6E lukman

    Sepulang shalat subuh (hari ini – 14 sept) ada tetangga yang berupaya mendebat saya
    mengenai purnama bulan yang terjadi tadi malam, hari tanggal 13 september malam
    14 september.

    Jika dihitung berdasarkan lebaran hari selasa (30 Agustus)
    maka tanggal 13 September adalah hari ke-15, dan 14 September adalah hari ke-16
    pasca lebaran. Dia yakin yang lebaran selasa adalah pihak yang benar. Sementara
    yang lebaran Rabu adalah yang salah.

    Saya katakan padanya, jika hari ini (14 September)
    dianggap sebagai hari ke-16, maka menurut hitungan Hijriyah kan dihitung sejak
    magrib kemarin (13 September). Sehingga purnama itu adalah hari ke-16 anda yang
    lebaran Selasa. Kok anda meng-klaim itu purnama ke-15.

    Jika purnama itu menandakan tanggal 15 Hijriyah, maka
    hitungannya tepat untuk pihak yang lebaran Rabu. 1 Syawwal pas hari Rabu (31
    Agustus) diutung sejak magrib selasa (30 Agustus). Maka hari ini (14 September)
    adalah 15 Hijriyah dan dihitung sejak magrib kemarin. Dia terdiam.

    Tapi ya, sudahlah! Kita ini ummat yang memiliki
    dinamika syariah yang beragam. Oleh karena itulah khasanah ilmu Islam berkembang
    mencerahkan dunia hingga saat ini. Perbedaan tidak usah dipertajam lagi. Ya,
    sudahlah. Kita akur-akur ajalah. Meski saya lebaran hari Rabu dan merasa benar
    atas purnama bulan malam ini, tetapi ya sudahlah. Tak usah diributkan. Biasa
    ajalah.Junjung tinggi ukhuwwah Islamiyyah……
    Jika purnama itu menandakan tanggal 15 Hijriyah, maka
    hitungannya tepat untuk pihak yang lebaran Rabu. 1 Syawwal pas hari Rabu (31
    Agustus) diutung sejak magrib selasa (30 Agustus). Maka hari ini (14 September)
    adalah 15 Hijriyah dan dihitung sejak magrib kemarin. Dia terdiam.

    Tapi ya, sudahlah! Kita ini ummat yang memiliki
    dinamika syariah yang beragam. Oleh karena itulah khasanah ilmu Islam berkembang
    mencerahkan dunia hingga saat ini. Perbedaan tidak usah dipertajam lagi. Ya,
    sudahlah. Kita akur-akur ajalah. Meski saya lebaran hari Rabu dan merasa benar
    atas purnama bulan malam ini, tetapi ya sudahlah. Tak usah diributkan. Biasa
    ajalah.

    Junjung tinggi ukhuwwah Islamiyyah……