*
Categories
Menu
ka'bah
Pengalaman Pertama di Tanah Haram
Artikel Lepas

Sedang di Ka'bah

dakwatuna.com - 

“Subhanallah! Masjidil Haram, tempat yang sangat dirindukan oleh setiap muslim untuk bisa menziarahinya. Karena Masjidil Haram merupakan salah satu dari tiga Masjid yang sangat dianjurkan untuk diziarahi, selain Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Aqsha di Al-Quds, Palestina.”

Kamis, 7 Januari 2011, pukul 19.00 waktu Jeddah, kami mendarat di bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi. Rasa bahagia menyelimuti hati penulis. Keinginan segera ke Baitullah Al-Haram menguat. Maklum ini kali pertama penulis  menginjakkan kaki di tanah Haram. Insya Allah selama kurang lebih satu tahun ke depan (2011), penulis study Program I’dadul Aimmah waddu’aat Rabithoh Alam Islami di Mekah.

Penulis bersama dua teman di jemput oleh akh Selamet Riyadi, beliau warga negara Indonesia yang bekerja di Jeddah. Beliau menunggu di lobby lebih dari dua jam. Ya, itulah proses di Imigrasi Jeddah, lama. Akh Selamet langsung bergegas menyambut kami. Padahal kami sebelumnya belum mengenalnya. Kami meluncur menuju apartemen tempat tinggalnya.

Setelah asya’ -makan malam- , kami bertiga menginap di funduq -hotel- “Panorama” di Jeddah.

Malam itu kami istirahat tidur, terasa sangat pulas. Mungkin karena hampir sembilan jam kami duduk di pesawat, dan hampir dua jam berdiri di Imigrasi Jeddah, antri tak jelas menunggu layanan petugas.

Penulis bangun pukul 03.30 waktu setempat, mandi dan shalat malam dua rekaat dilanjutkan witir tiga rekaat. Penulis menunggu shalat Subuh tiba, lama tidak kedengaran adzan subuh. Salah satu dari kami menelpon receptionis menanyakan waktu shalat subuh, ternyata waktu shalat Subuh di sini pukul 05.40 menit. Setelah selesai shalat Subuh sesekali kami melihat cannel TV Ar-Risalah, cannel TV yang menyuguhkan acara-acara Islami.

Funduq tidak menyediakan sarapan pagi, mungkin karena hari Jum’at, alias libur. Kami sarapan ala kadarnya, mei instans plus teh hangat. Ternyata salah satu mie instan buatan Indonesia menjadi makanan favorit bagi warga Saudi.

Pemandangan jalanan pagi hari itu lengang sekali, hanya satu-dua mobil lewat. Ya, hari itu hari Jum’at. Biasanya orang Arab kalau malam Jum’at begadang. Paginya mereka tidur sampai menjelang Jum’atan.

Pkl 10.00 akh Selamet dan akh Nasrul datang menemui kami sambil membawa baju Ihram, roti, tahu goreng, plus cabe. “Wah, di Jeddah ketemu cabe gede-gede, pedes lagi… Di tanah air, sekarang ini cabe baru mahal, satu bijinya seribu rupiah atau satu kilonya seratus ribu rupiah.” Kata penulis. Sambil makan kami ngeriung bersama.

Kami melanjutkan perjalanan dengan menunaikan shalat Jum’at di masjid jami’ di tengah kota. Selepas shalat Jum’at kami menuju rumah makan Jawa Timur, “Master Sate”. Di Saudi rumah makan Indonesia terbilang cukup banyak. Tidak beberapa lama kami sampai di lokasi. Sebentar kemudian akh Bahar sampe, menyusul kemudian Akh Hari dan akh Adi datang kemudian. Inilah sebagian saudara-saudara kita yang mengadu nasib di rantau tapi sekaligus menjadi duat ilallah.

Mereka berlima mengantar kami ke Mekah. Tujuannya ke Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah. Akh Bahar berkomunikasi dengan akh Atieq -mahasiswa S2 di Ummul Qura, Mekah- meminta dia agar kami bisa ditemani. Akh Atieq menyarankan agar kita ke kampus Rabithah dulu, untuk menaruh barang-barang bawaan kami. Kami bertemu untuk bersama menuju ke Kampus Rabithah. Ternyata hari Jum’at kampus libur dan tidak ada yang bertugas kecuali hanya satpam saja. Kami putuskan untuk ke rumah akh Atieq. Kami taruh barang-barang bawaan di sana untuk selanjutkan kami berpisah dengan kelima ikhwah Jeddah.

Kami melaju menuju Masjidil Haram dengan mobil akh Atieq ditemani Akh Firdaus -alumni madrasah salafiyah di Mekah yang sekarang aktif di traffel, melayani jama’ah haji dan umrah dari Indonesia-.

Kami tiba dipelataran Masjidil Haram. Subhanallah! Masjidil Haram, tempat yang sangat dirindukan oleh setiap muslim untuk bisa menziarahinya. Karena Masjidil Haram merupakan salah satu dari tiga Masjid yang sangat dianjurkan untuk diziarahi, selain Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Aqsha di Al-Quds, Palestina.

Dengan tenang dan berdebar, kami memasuki Masjidil Haram. Masjid yang sangat luas dan megah. Masjid sebagai simbol peradaban dan kemajuan umat Islam. Ya, arsitek Masjidil Haram memang luar biasa. Sangat indah dengan berdinding dari marmer yang beragam warna. Sangat menakjubkan, Subhanallah!

Sampai di depan Ka’bah Al-Musyarrafah, semakin kencang jantung berdegup. Betapa kecil diri ini di depan keagungan Pemilik Ka’bah. Betapa tidak ber-artinya diri ini di hadapan Pemilik Tanah Suci. Rasa haru dan syukur bercampur jadi satu. Sulit untuk diungkapkan.

Kami melaksanakan thawaf di awali dari sisi Hajar Aswad. Kami mengelilingi Ka’bah bersama ratusan umat muslim. Tiga putaran pertama disunnahkan berjalan dengan cepat namun pendek-pendek. Doa-doa terus kami lantunkan.

Sampai pada sisi Rukun Yamani –yang pojok bawah terbuka membentuk lingkaran, tidak tertutup kiswah Ka’bah- kami membaca doa sapu jagad. Doa yang disunnahkan oleh Nabi saw. untuk dibaca; “Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” Doa ini dibaca sampai sisi Hajar Aswad. Begitu seterusnya sampai tujuh kali thawaf.

Tidak ada doa dan bacaan khusus ketika thawaf, kecuali doa ketika berada antara Rukun Yamani sampai sisi Hajar Aswad di atas. Sehingga boleh sambil membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, juga ayat-ayat Qur’aniyah, atau doa-doa ma’tsur –yang diajarkan Nabi-.

Setelah selesai thawaf, selanjutnya kami menuju belakang Maqam Ibrahim untuk shalat sunnah dua reka’at. Disunnahkan sebelum melaksanakan shalat membaca ayat: “Wattakhidzuu mim maqaami Ibraahiima mushallaa. Dan jadikanlah di antara tempat berdirinya Nabi Ibrahim (ketika membangun Ka’bah) sebagai tempat shalat.” Bacaan rekaat pertama ketika shalat sunnah adalah surat Al-Kafirun dan di rekaat kedua membaca surat Al-Ikhlas, tentu setelah membaca Al-Fatihah. Sempatkan terus untuk memperpanjang doa-doa. Selesai shalat baru minum air Zam-Zam yang letaknya tidak jauh dari Ka’bah dan sekitarnya.

Adzan Maghrib berkumandang. Adzan yang sering saya dengar di tv atau di kantor Elnusa, Jakarta ketika sedang Jum’atan. Adzan khas Masjidil Haram. Syaikh Sudais memimpin imam shalat Maghrib. Selepas Maghrib kami menuju Mas’a –tempat Sa’i-. Kami awali dari naik bukit Shafa. “Nabda’ bimaa bada’allah, Kami mulai dari yang Allah perintahkan untuk memulai.” Sambil naik ke bukit Shafa penulis membaca ayat; “Innash Shofaa wal marwata min sya’aairillah faman hajjal baita awi’tamara falaa junaaha ‘alaihi ainyatthawwafa bihimaa, waman tathawwa’a fainnallaha Syaakirun ‘Aliim.” Selanjutnya penulis membaca tahlil dan berdoa –lihat rangkaian ibadah umrah bab doa di bukit Shafa dan Marfa-. Kemudian penulis menuju Marwa. Begitu tujuh kali seterusnya.

Selesai Sa’i, kami memendekkan rambut sebagai pertanda umrah telah selesai alias tahallul. Ini kali pertama kami menginjakkan kaki di Mekah dan kali pertama juga kami melaksanakan umrah.

Sarana komunikasi di tanah rantau sangat penting, apalagi pendatang baru. Nah, kami belum sempat beli kartu perdana Saudi. Hampir semua kartu HP dari tanah air tidak bisa digunakan. Kami bingung, karena salah satu dari kami, dari mulai thawaf sampai tahallul terpisah.

Kami menunggunya sampai shalat Isya’ usai. Ternyata tidak kelihatan juga. Kami putuskan untuk naik ke Marwa, berarti melawan arus. Pikir kami dia ada di bukit Marwa. Tidak juga ketemu. Kami ambil sandal untuk keluar, mencarinya, sebab kalau tidak ketemu berabe, bisa-bisa tidak bisa pulang.

Kami menuju saahah -teras- Masjidil Haram. Di antara kami ada yang mencarinya. Karena capek, penulis duduk, buka HP untuk tilawah Al-Qur’an. Kami berdoa semoga dia kembali. Alhamdulillah, Tidak berapa lama dia menghampiri kami. “Baru nuker real,” jelasnya minta dimaklumi.

Kami beli kartu perdana lokal; di sini ada mobily, sawa, zain dan lain-lain. Kami beli kartu perdana seharga SR 30, dengan pulsa berisi 30 real juga. Selanjutnya kami mencari rumah makan untuk asya’, ketemu rumah makan “Surabaya”, baru kemudian pulang ke markaz dakwah di Zahir, untuk istirahat.

Jazakumullah khaira untuk ikhwah Jeddah dan ikhwah Mekah, para duat ilallah yang telah menyambut kami, melayani kami layaknya saudaranya sendiri.

(Mekah, 5 Shafar 1432 H.)

Ulis Tofa, Lc

Tentang Ulis Tofa, Lc

  Lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 05 April 1975. Menyelesaikan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Ma’ahid Krapyak Kudus. Tahun 1994 melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Program… [Profil Selengkapnya]

comments
  • Azmantya

    Subhanallah…keinginan untuk kembali kesana lagi selalu muncul…Ya Allah berilah kesempatan bagiku dan keluargaku untuk kembali lagi