Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Kewajiban Membentuk Rumah Tangga Islam

Kewajiban Membentuk Rumah Tangga Islam

dakwatuna.com – Islam agama yang diturunkan Allah swt. kepada manusia untuk menata seluruh dimensi kehidupan mereka. Setiap ajaran yang digariskan agama ini tidak ada yang berseberangan dengan fitrah manusia. Unsur hati, akal, dan jasad yang terdapat dalam diri manusia senantiasa mendapatkan “khithab ilahi” (arahan Allah) secara proporsional.

Oleh karenanya, Islam melarang umatnya hidup membujang laiknya para pendeta. Hidup hanya untuk memuaskan dimensi jiwa saja dan meninggalkan proyek berkeluarga dengan anggapan bahwa berkeluarga akan menjadi penghalang dalam mencapai kepuasan batin. Hal ini merupakan bentuk penyimpangan fitrah manusia yang berkaitan dengan unsur biologis.

Berkeluarga dalam Islam merupakan sunnatullah yang berlaku untuk semua makhluk (kecuali malaikat), baik manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Bahkan ditekankan dalam ajaran Islam bahwa nikah adalah sunnah Rasulullah saw. yang harus diikuti oleh umat ini. Nikah dalam Islam menjadi sarana penyaluran insting dan libido yang dibenarkan dalam bingkai ilahi. Agar kita termasuk dalam barisan umat ini dan menjadi manusia yang memenuhi hak kemanusiaan, maka tidak ada kata lain kecuali harus mengikuti Sunnah Rasul, yaitu nikah secara syar’i. Meskipun ada sebagian Ulama yang sampai wafatnya tidak sempat berkeluarga. Dan ini bukan merupakan dalih untuk melegalkan membujang seumur hidup. Adapun hukumnya sendiri –menurut ulama– bertingkat sesuai faktor yang menyertainya. Coba perhatikan beberapa nash di bawah ini:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِى مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِى حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ – رضى الله عنه – يَقُولُ جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ . قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا . فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » . تحفة 745 – 2/7 ، رواه البخاري

Sa’idbin Abu Maryam menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Humaid bin Abu Humaid At-Thawil bahwasanya ia mendengar Anas bin Malik r.a. berkata: “Ada tiga orang yang mendatangi rumah-rumah istri Nabi saw. menanyakan ibadah Nabi saw. Maka tatkala diberitahu, mereka merasa seakan-akan tidak berarti (sangat sedikit). Mereka berkata: “Di mana posisi kami dari Nabi saw., padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.” Salah satu mereka berkata: “Saya akan qiyamul lail selama-lamanya.” Yang lain berkata: “Akan akan puasa selamanya.” Dan yang lain berkata: “Aku akan menghindari wanita, aku tidak akan pernah menikah.” Lalu datanglah Rasulullah saw. seraya bersabda: “Kalian yang bicara ini dan itu, demi Allah, sungguh aku yang paling takut dan yang paling takwa kepada Allah. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat, aku tidur, dan aku juga menikah. Barang siapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (Al-Bukhari)

Ada beberapa faktor yang mendasari urgensinya pembentukan keluarga dalam Islam sebagaimana berikut:

1. Perintah Allah swt.

Membentuk dan membangun mahligai keluarga merupakan perintah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. dalam beberapa firman-Nya. Agar teralisasi kesinambungan hidup dalam kehidupan dan agar manusia berjalan selaras dengan fitrahnya. Kata “keluarga” banyak kita temukan dalam Al-Quran seperti yang terdapat dalam beberapa ayat berikut ini;

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara': 214)

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

2. Membangun Mas’uliah Dalam Diri Seorang Muslim.

Sebelum seorang berkeluarga, seluruh aktivitasnya hidupnya hanya fokus kepada perbaikan dirinya. Mas’uliah (tanggung jawab) terbesar terpusat pada ucapan, perbuatan, dan tindakan yang terkait dengan dirinya sendiri. Dan setelah membangun mahligai keluarga, ia tidak hanya bertanggungjawab terhadap dirinya saja. Akan tetapi ia juga harus bertanggungjawab terhadap keluarganya. Bagaimana mendidik dan memperbaiki istrinya agar menjadi wanita yang shalehah. Wanita yang memahami dan melaksanakan hak serta kewajiban rumah tangganya. Bagaimana mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi rabbani nan qurani. Coba kita perhatikan beberapa hadits berikut ini:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ قَتادَةَ عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ حَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَهُ حَتىَّ يُسْأَلَ الرَّجُلُ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ غَرِيْبٌ مِنْ حَدِيْثِ قَتادةَ لَمْ يَرْوِهِ إِلَّا مُعاذُ عَنْ أَبِيْهِ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya.” (Hadits gharib dalam Hilayatul Auliya, 9/235, diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Isyratun Nisaa’, hadits no 292 dan Ibnu Hibban dari Anas dalam Shahihul Jami’, no.1775; As-Silsilah Ash-Shahihah no.1636).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- :« خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى ».

Dari Aisyah r.a., berkata: “Nabi saw. bersabda: “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik pada kelurganya dan aku paling baik bagi keluargaku.” (Imam Al-Baihaqi)

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( أكْمَلُ المُؤمِنِينَ إيمَاناً أحْسَنُهُمْ خُلُقاً ، وخِيَارُكُمْ خياركم لِنِسَائِهِمْ )) رواه الترمذي ،

Dari Abu Hurairah r.a., berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (Imam At-Tirmidzi, dan ia berkata: “Hadits hasan shahih.”

3. Langkah Penting Membangun Masyarakat Muslim

Keluarga muslim merupakan bata atau institusi terkecil dari masyarakat muslim. Seorang muslim yang membangun dan membentuk keluarga, berarti ia telah mengawali langkah penting untuk berpartisipasi membangun masyarakat muslim. Berkeluarga merupakan usaha untuk menjaga kesinambungan kehidupan masyarakat dan sekaligus memperbanyak anggota baru masyarakat.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

عَن أنسٍ رضي الله عنه قَالَ : { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِالْبَاءَةِ ، وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا ، وَيَقُولُ : تَزَوَّجُوا الْوَلُودَ الْوَدُودَ .فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ } رَوَاهُ أَحْمَدُ ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ .وَلَهُ شَاهِدٌ عِنْدَ أَبِي دَاوُد ، وَالنَّسَائِيُّ ، وَابْنِ حِبَّانَ مِنْ حَدِيثِ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ

Dari Anas r.a. berkata: “Rasulullah saw. memerintahkan kami dengan “ba-ah” (mencari persiapan nikah) dan melarang membunjang dengan larangan yang sesungguhnya seraya bersabda: “Nikaihi wanita yang banyak anak dan yang banyak kasih sayang. Karena aku akan berlomba dengan jumlah kamu terhadap para nabi pada hari kiamat.” (Imam Ahmad, dishahihkan Ibnu Hibban. Memiliki “syahid” pada riwayat Abu Dawud, An-Nasaai dan Ibnu Hibban dari hadits Ma’qil bin Yasaar)

4. Mewujudkan Keseimbangan Hidup

Orang yang membujang masih belum menyempurnakan sisi lain keimanannya. Ia hanya memiliki setengah keimanan. Bila ia terus membujang, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidupnya, kegersangan jiwa, dan keliaran hati. Untuk menciptakan keseimbangan dalam hidupnya, Islam memberikan terapi dengan melaksanakan salah satu sunnah Rasul, yaitu membangun keluarga yang sesuai dengan rambu-rambu ilahi. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِى النِّصْفِ الْبَاقِى. رَوَاهُ الْبَيْهَقِي

Dari Anas bin Malik r.a. berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang menikah maka ia telah menyempurnakan setengah agama. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam setengahnya.” (Imam Al-Baihaqi)

Menikah juga bisa menjaga keseimbangan emosi, ketenangan pikiran, dan kenyamanan hati. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ ».رواه مسلم

Dari Abdullah berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada kami: “Wahai para pemuda, barangsiapa dari kalian yang memiliki kemampuan, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya menikah itu akan menundukkan pandangan dan memelihara farji (kemaluan). Barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Karena puasa itu merupakan benteng baginya. (Imam Muslim)

Semoga kita dimudahkan Allah untuk melaksanakan sunnah ini. Amin

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 8,64 out of 10)
Loading...Loading...
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Ilustrasi.  (fajar.co.id)

Jangan Biarkan Ada Rangga Kedua!

  • Susanto

    Dakwatuna.com terus maju, saya ikut mendukung

  • Hendi-Fitria

    alhamdulillah kami telah memulai membangun istana bagi keluarga kami di surga. smg dakwatuna terus mjd sahabat bertaushiah dan terus memotivasi ummat untuk berislam secara kaffah

  • http://dakwatuna.commakanlahyghalal ozi

    semoga dakwatuna.com terus maju karna banyak memberikan manfaat pada saya dan teman2 dakwatuna.com yang lain…maju terus dakwaruna.com

  • Fatmawati

    Tanggung Jawab Sosial Pernikahan

    Terlepas dari masalah takdir, jodoh dan pernikahan harusnyalah sudah menjadi tanggung jawab sosial di masyarakat.

    Di saat perbandingan perempuan yang lebih banyak dari laki-laki dan dari yang ada ada jauh lebih sedikit lagi yang memahami Islam dengan baik.

    Tanggung jawab sosial harusnya terbangun saat melihat kondisi semakin banyak perempuan yang secara usia sudah memasuki titik rawan, apalagi kemudian perempuan tersebut perempuan baik-baik yang menjaga aurat dan kehormatan dirinya. Ketika orang tua dan keluarga tidak paham dengan kondisi yang diinginkan harapan tinggallah pada saudara seiman yang sama-sama paham Islam dengan baik.

    Ketika ada seorang teman laki-laki di sebuah organisasi yang kebetulan usianya lebih muda meminta izin akan menikah duluan dengan seorang teman perempuannya yang secara usia lebih tua. Dengan gaya berseloroh, perempuan itu berkata, “Wah, semua pada mendahului mbak-mbaknya ya……”

    Dengan santainya si teman laki-laki itu berkata, “ mba-mba ya sih hanya sabar dan tawakal!berusaha dong mba.”

    Innalillahi ……

    Jawaban itu begitu menyakitkan …….. namun juga menyadarkan diri

    Sejauh mana akhwat muslimah pro aktif dalam masalah jodoh? Sejauh mana usaha akhwat muslimah dalam masalah jodoh?

    Ketika orang-orang terdekatnya satu persatu menikah kemudian ketika bertemu hanya say hello dan menanyakan kapan menyusul?

    Daripada menanyakan hal tersebut, apa tidak sebaiknya mencarikan solusi bersama.

    Apakah bukan termasuk da’wah ketika kemudian teman-teman yang laki-laki menikah dengan perempuanyang secara usia telah memasuki titik rawan. Ikhwan juga manusia sih, yang terkadang fisik dan usia dalam masalah pernikahan masih menjadi pertimbangan utama walau bukan pertama.

    Banyak aktifis muslim yang ketika telah siap menikah (secara usia dan ilmu) menunda hanya karena alasan ketidak siapan penghasilan. Dan ketika telah siap mereka lebih memilih akhwat yang lebih muda. Lalu bagaimana dengan akhwat yang seusia dengan mereka?

    Akhwat terkadang manusia yang bisa berburuk sangka kepada ikhwan sebagai saudara seimannya. Ketidak matangan ikhwan dalam menyikapi hidup.

    Demikian pula dengan kita semua, pernahkah terpikir bagaimana perasaan saudari kita yang telah memasuki usia rawan. Tidak kah terpikir bagaimana kesehatan reproduksi mereka, perasaan mereka ketika mendapat tekanan dari keluarga dan masyarakat. Belum lagi ditambah dengan ketidak pedulian kita dengan gampangnya menanyakan “kapan menyusul, kapan undangannya …?”

    Belum lagi fenomena di sebuah harokah da’wah yang memiliki manajemen mengenai urusan walimah. Harus melalui jalur munakahat. Betapa tegasnya jika, usia akhawat belum memasuki usia rawan, diminta untuk bersabar dalam masalah jodoh sehingga dengan kepatuhan terhadap qiyadah, si akhwat menolak lamaran-lamaran yang datang padanya. Namun setelah sekian lama, ketika memasuki usia rawan, barulah tim munkahat tersadar jika jumlah ikhwan yang siap menikah tidak sebanyak akhwat yang menikah maka diminta lah si akhwat untuk menerima saja lamaran dari luar jamaah sepanjang hanif.

    Innalillahi ……

    Sudah saat nya kita semua berperan dalam memikul tanggung jawab sosial ini. Keberadaan mereka harusnya kita pikirkan untuk dicarikan solusi dan jangan menambah beban mereka sama seperti masyarakat umum di sekitar mereka.

    Pertumbuhan biro jodoh muslimah yang ada seperti kontak taarufnya Sehati milik Darul Tauhid pun belum banyak membantu karena keberadaannya masih tersentral di Jawa. Bagaimana dengan luar Jawa?Namun paling tidak ini sedikit kemajuan sebagai bentuk tanggung jawab sosial kita.

    Untuk akhwat yang belum menikah. Ukhti fillah, jodoh kita bisa di dunia atau di akhirat yang jelas kematian lebih pasti datangnya. Jadi yang pasti, ukhti fillah berusaha menata hati dan memperbaiki diri dengan berlalunya hari serta berusaha menyakinkan orang tua dan dan keluarga atas prinsip yang diyakini.

  • ALI SUBROTO

    dakwatuna.com adalah salah satu media penambah wawasan kaum muslimin jadi tidak ada ruginya bagi kaum muslimin untuk mengaksesnya. maju terus dakwatuna. ALLAHUAKBAR!!!!!

  • http://www.dakwatu.com Anita

    ass…Bismillahirohman nirrohim

    benar apa yg disampaikan oleh ukhti fatma,kadang orang begitu mudahnya menanyakan kapan undangan,kapan nyusul? seandainya pertanyaan itu untuk akhwat yg masih muda mngk tidak begitu bermasalah,tp klu pertanyaan itu untuk akhwat yg usianya sudah rawan mungkin pertanyaan itu akan membuat sedih,buat akhwat pilah saat anda mendengar atau mendapat pertanyaan seperti itu,gak perlu sedih tinggal akhwat jawab aku hanya mencintai orang ikhwan (laki2) yg mencintai Allah stw,dan hanya ingin dimilik dan memiliki orang yg mencintai Allah,

  • Abeh

    Seharusnya kita memperbanyak dan mempercepat pertumbuhan Biro Jodoh Islami yang disebutkan ukhti Fatmawati diseluruh bumi tanah air kita, bahkan juga diperantauan.

  • sofie

    khusus untuk ukhti yang lom nikah tetap istiqomah, dan masukan dari ukhti fatmawati, bagus banget…

  • ikhwan

    Subhanallahu, indah memang menyaksikan bangunan rumah tangga islami, menyaksikan rukunnya kehidupan ikhwan akhwat yang telah berumah tangga, telah dikaruniai keturunan2 yang qurrata a'yun.
    Tapi wahai saudariku ukhti Fatmawati, ingatlah, bahwa itu semua adalah jodoh2 yang telah Allah Swt pasangkan, yang Allah telah berikan sebagian karuniaNya kepada mereka.
    Allah swt telah menjadikan pemandangan2 di atas sebagai ujian bagi (khususnya) akhwat yang belum nikah. Tentu ukhti Fatimah tak perlu berkecil hati, bersedih atau iri terhadap kehidupan mereka. Mereka juga pada hakikatnya tengah diuji dengan rumah tangganya. Bukankah isteri, anak, harta semuanya akan dimintai pertanggunganjawabannya di hadapan Allah swt kelak? Kira2, manakah yang lebih berat tanggung jawabnya; apakah yang lajang, ataukah yang sudah berumah tangga?
    Ingatlah wahai saudariku, ukhti Fatmawati, keadaan yang ukhti rasakan/alami ternyata tidak hanya dialami oleh ukhti seorang. Banyak juga yang usianya malah lebih tua dari ukhti masih belum menikah.
    Saya sangat bisa memahami, mengingat saya pun punya anak-anak perempuan. Saya juga mungkin akan bisa merasakan bila saatnya nanti anak2 perempuan kami jika sampai usia lewat masih belum menemukan jodohnya. Tapi kami mencoba untuk tabah, tawwakal, dan bersabar terhadap apapun yang Allah ujikan kepada kita.
    (bersambung)

  • agung n

    assalamu'alaikm, afwan boleh ana copy naskah ini?

  • http://http//yahoo Idunk

    Dakwatuna salah satu media belajar tentang agama islam. Thank's dakwatuna.

  • Kevi

    Allah menciptkn mkhlk’a brpsang2an dakwatuna.com merupakan tmpt qt tuk mncari p5ngn qt

  • Arsyad

    aslamu’alaikum…jazakumulloh khaer dakwatuna atas mawad islamiyah yg tlah dberikan…smg tetap eksis

  • Firda Tj

    Alhamdulilah apa yg ana cari sdh ana dptkan, sukron dakwatuna…